Tedunan, Wedung - Di balik hamparan lahan pertanian Desa Tedunan, terdapat tantangan yang tidak selalu dapat dikenali hanya dengan melihat kondisi permukaan tanah. Selain permasalahan lahan yang kerap mengalami kondisi asem-asemen, salinitas juga menjadi salah satu persoalan yang berpotensi menurunkan produktivitas lahan pertanian. Keberadaan tambak garam dan jaringan irigasi di sekitar area persawahan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam memahami kerentanan tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut, Astika Lianti Suparno (Astika) dari program studi Ilmu Tanah menginisiasi program Pemetaan Kerentanan Salinitas pada Lahan Pertanian Desa Tedunan sebagai upaya menyediakan informasi spasial mengenai wilayah yang memiliki tingkat kerentanan berbeda. Pemetaan dilakukan dengan mempertimbangkan kedekatan lahan sawah terhadap jaringan irigasi yang berpotensi menjadi jalur masuknya air berkadar garam menuju area pertanian. Hasil pemetaan diharapkan dapat menjadi informasi awal bagi masyarakat dan pemerintah desa dalam mengenali wilayah yang memerlukan perhatian lebih terhadap risiko salinitas.
Tahapan pemetaan diawali dengan mempersiapkan citra satelit yang mencakup wilayah Desa Tedunan. Citra tersebut kemudian diinterpretasikan berdasarkan karakteristik dan kenampakan permukaan lahan untuk mengidentifikasi objek-objek yang diperlukan dalam pemetaan. Selanjutnya, dilakukan proses digitasi untuk menggambarkan wilayah sawah, jaringan irigasi, dan batas administrasi yang dibantu oleh Kayla Hanifah Jasmine Sitorus (Kayla) dari program studi Teknik Geodesi. Seluruh data kemudian diolah menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) ArcGIS agar informasi spasial dapat disusun dan dianalisis secara sistematis. Identifikasi tingkat kerentanan berdasarkan jarak lahan pertanian terhadap jaringan irigasi menggunakan analisis multiple ring buffer yang membagi wilayah ke dalam beberapa zona berdasarkan tingkat kedekatannya. Hasil analisis tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk Peta Kerentanan Salinitas Lahan Pertanian Desa Tedunan.
Peta yang dihasilkan tidak hanya menjadi gambaran visual mengenai kondisi wilayah, tetapi juga dapat berfungsi sebagai sumber informasi dalam mengenali pola kerentanan salinitas secara lebih terarah. Melalui peta tersebut, lahan sawah yang berada pada zona dengan kedekatan lebih tinggi terhadap jaringan irigasi dapat diidentifikasi sebagai wilayah yang membutuhkan pemantauan lebih lanjut. Informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan lahan dan air, penentuan lokasi yang perlu mendapat perhatian, serta penyusunan strategi pengelolaan pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan. Dengan adanya informasi spasial tersebut, masyarakat dan pemerintah desa memiliki gambaran wilayah yang lebih jelas dalam menentukan prioritas pemantauan dan penanganan permasalahan salinitas.
Lebih dari sekadar hasil visual, pemetaan ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun basis informasi spasial pertanian Desa Tedunan. Peta yang telah dihasilkan dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menggabungkan data pengukuran salinitas tanah maupun air, kondisi jaringan irigasi, serta informasi praktik pengelolaan lahan yang dilakukan oleh petani. Dengan pengembangan data tersebut, pemetaan diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi kondisi wilayah, tetapi dapat menjadi salah satu dasar untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi salinitas dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dalam menjaga keberlanjutan lahan pertanian Desa Tedunan.